Rossi
| Kelangkaan | ★★★★★★ |
|---|---|
| Atribut utama | AGI |
| Tipe senjata | Pedang |
| CV(Inggris) | Giada Sabellico |
| CV(Jepang) | Hidaka Rina |
| CV(Korea) | Lee Joo-eun |
| CV(Mandarin) | Misty |
Tag pertempuran
Sifat
Terobosan
Aktifkan untuk menaikkan batas level operator menjadi 40
Untuk mem... Ikhtisar ›
Aktifkan agar operator bisa dipasangi gear berkualitas biru
Aktifkan untuk menaikkan batas level operator menjadi 60
Untuk mem... Ikhtisar ›
Aktifkan agar operator bisa dipasangi gear berkualitas ungu
Aktifkan untuk menaikkan batas level operator menjadi 80
Untuk mem... Ikhtisar ›
Aktifkan agar operator bisa dipasangi gear berkualitas emas
Aktifkan untuk menaikkan batas level operator menjadi 90
Untuk mem... Ikhtisar ›
File operator
INFO DASAR
NAMA SANDI: Rossi
GENDER: Perempuan
AUTENTIKASI: Kawanan
TANGGAL LAHIR: 10 Maret
RAS: Lupo
[STATUS INFEKSI ORIPATI]
Positif Oripati (terinfeksi), berdasarkan laporan pemeriksaan medis.
[PEMERIKSAAN FISIK TERPADU]
KEKUATAN FISIOLOGIS: Standar
KEMAMPUAN TEMPUR: Standar
KECERDASAN TAKTIS: Sangat Baik
ASIMILASI ORIGINIUM ARTS: Sangat Baik
GENDER: Perempuan
AUTENTIKASI: Kawanan
TANGGAL LAHIR: 10 Maret
RAS: Lupo
[STATUS INFEKSI ORIPATI]
Positif Oripati (terinfeksi), berdasarkan laporan pemeriksaan medis.
[PEMERIKSAAN FISIK TERPADU]
KEKUATAN FISIOLOGIS: Standar
KEMAMPUAN TEMPUR: Standar
KECERDASAN TAKTIS: Sangat Baik
ASIMILASI ORIGINIUM ARTS: Sangat Baik
RINGKASAN SUMBER DAYA MANUSIA
Operator Rossi, nama lengkap Rossina Wulfperl Luppino, adalah anggota klan Landbreaker yang dikenal dengan sebutan Kawanan. Sebagai salah satu perwakilan klan, dia menjalin kerja sama dengan Endfield Industries. Sekarang, Rossi bertugas di Divisi Teknologi Spesialis.
Karena status Operator Wulfgard yang unik, semua urusan kerja sama antara Endfield Industries dan Kawanan secara efektif berfokus pada Operator Rossi.
Rossi bukan penghuni tetap Dijiang. Dia lebih sering bersama Kawanan dan mengurus urusan klan. Walau begitu, mencari Rossi jauh lebih mudah daripada mencari Wulfgard. Dia juga cukup terbuka untuk mengikuti pelatihan di Endfield Industries. Penilaian dari Lil’ Dodge menyatakan: “Kecerdasan taktisnya luar biasa. Punya kharisma kepemimpinan dan bakat komando di medan pertarungan.”
Operator Rossi memang lebih dekat dengan gambaran umum masyarakat tentang anggota Kawanan: setia pada keluarga, patuh pada aturan, dan penuh rasa hormat pada para senior. Pada hari pertamanya di pesawat Dijiang, dia mengunjungi hampir semua kepala departemen serta operator terkenal lainnya. Sikapnya yang sopan dan penuh tanggung jawab meninggalkan kesan yang mendalam di mata banyak orang.
Tapi, kalau kau bertarung langsung melawannya, kau akan melihat sisi Rossi yang sepenuhnya berbeda: tajam bagaikan pisau dan benar-benar tak kenal ampun.
— Martin Marvin Malen, Asisten Divisi SDM, Endfield Industries
Karena status Operator Wulfgard yang unik, semua urusan kerja sama antara Endfield Industries dan Kawanan secara efektif berfokus pada Operator Rossi.
Rossi bukan penghuni tetap Dijiang. Dia lebih sering bersama Kawanan dan mengurus urusan klan. Walau begitu, mencari Rossi jauh lebih mudah daripada mencari Wulfgard. Dia juga cukup terbuka untuk mengikuti pelatihan di Endfield Industries. Penilaian dari Lil’ Dodge menyatakan: “Kecerdasan taktisnya luar biasa. Punya kharisma kepemimpinan dan bakat komando di medan pertarungan.”
Operator Rossi memang lebih dekat dengan gambaran umum masyarakat tentang anggota Kawanan: setia pada keluarga, patuh pada aturan, dan penuh rasa hormat pada para senior. Pada hari pertamanya di pesawat Dijiang, dia mengunjungi hampir semua kepala departemen serta operator terkenal lainnya. Sikapnya yang sopan dan penuh tanggung jawab meninggalkan kesan yang mendalam di mata banyak orang.
Tapi, kalau kau bertarung langsung melawannya, kau akan melihat sisi Rossi yang sepenuhnya berbeda: tajam bagaikan pisau dan benar-benar tak kenal ampun.
— Martin Marvin Malen, Asisten Divisi SDM, Endfield Industries
FILE 1
Catatan Pengamatan Rossi
Nonno Rozzan
Nonno Rozzan selalu berjalan sangat tenang. Davvero strano ... tubuhnya tinggi, tapi langkahnya seringan berjalan di karpet tebal. Hampir tak pernah kulihat dia terpeleset. Di mana pun aku bersembunyi, dia pasti bisa menemukanku.
Setiap kali aku melihat Nonno Rozzan dengan senapannya, waktu serasa ... si ferma. Bahkan suara napas pun hilang. Aku tak tahu berapa lama dia berdiri diam sebelum akhirnya menurunkan senapan itu. Aku belum pernah lihat dia menekan pelatuknya. Dia hanya membersihkan larasnya dengan kain, lalu memasukkannya kembali ke dalam tas. Latihan selesai. Aku sudah beberapa kali coba menirunya, tapi ... aku tak sanggup bertahan lama-lama dalam posisi itu seperti dia.
...
Catello
Catello selalu terlihat terburu-buru. Sungguh, sibuk apa sih dia? Soal latihannya ... sederhana sekali, sampai terasa menjengkelkan. Latihan kekuatan yang membosankan, diselingi sedikit latihan target dinamis, atau langsung bertarung sungguhan .... Così noioso. Tak ada yang patut dipelajari. Lewat saja!
...
Sorella Arclight
Sorella Arclight bisa bergerak cepat di tebing terjal. Apa cuma soal kecepatan murni? Aku tanya, katanya sih butuh sedikit bantuan Arts juga .... Dia juga bermeditasi saat latihan. Katanya supaya pikiran lebih fokus, jauh dari gangguan. Hmph .... Diam tanpa gerak selama itu? Jujur, aku tak sanggup.
...
Endministrator
Endmin selalu menyesuaikan ritme dengan rekan tim lain supaya semua bisa mengikuti. Benar-benar berkebalikan dengan Catello! Latihan Endmin pun kebanyakan seputar manipulasi Originium dan membentuk batu jadi senjata setajam silet. Bagaimana caranya? Sepertinya hanya Endmin-lah yang bisa. Tak ada gunanya aku belajar coba-coba ....
Nonno Rozzan
Nonno Rozzan selalu berjalan sangat tenang. Davvero strano ... tubuhnya tinggi, tapi langkahnya seringan berjalan di karpet tebal. Hampir tak pernah kulihat dia terpeleset. Di mana pun aku bersembunyi, dia pasti bisa menemukanku.
Setiap kali aku melihat Nonno Rozzan dengan senapannya, waktu serasa ... si ferma. Bahkan suara napas pun hilang. Aku tak tahu berapa lama dia berdiri diam sebelum akhirnya menurunkan senapan itu. Aku belum pernah lihat dia menekan pelatuknya. Dia hanya membersihkan larasnya dengan kain, lalu memasukkannya kembali ke dalam tas. Latihan selesai. Aku sudah beberapa kali coba menirunya, tapi ... aku tak sanggup bertahan lama-lama dalam posisi itu seperti dia.
...
Catello
Catello selalu terlihat terburu-buru. Sungguh, sibuk apa sih dia? Soal latihannya ... sederhana sekali, sampai terasa menjengkelkan. Latihan kekuatan yang membosankan, diselingi sedikit latihan target dinamis, atau langsung bertarung sungguhan .... Così noioso. Tak ada yang patut dipelajari. Lewat saja!
...
Sorella Arclight
Sorella Arclight bisa bergerak cepat di tebing terjal. Apa cuma soal kecepatan murni? Aku tanya, katanya sih butuh sedikit bantuan Arts juga .... Dia juga bermeditasi saat latihan. Katanya supaya pikiran lebih fokus, jauh dari gangguan. Hmph .... Diam tanpa gerak selama itu? Jujur, aku tak sanggup.
...
Endministrator
Endmin selalu menyesuaikan ritme dengan rekan tim lain supaya semua bisa mengikuti. Benar-benar berkebalikan dengan Catello! Latihan Endmin pun kebanyakan seputar manipulasi Originium dan membentuk batu jadi senjata setajam silet. Bagaimana caranya? Sepertinya hanya Endmin-lah yang bisa. Tak ada gunanya aku belajar coba-coba ....
FILE 2
Masa Pendewasaan? Di Kawanan, setiap anggota punya ujian pendewasaan sendiri-sendiri. Ada yang harus menaklukkan buruan sendirian. Ada juga yang harus menuntaskan urusan bisnis rumit.
Kawanan tampaknya tak khawatir anak-anak muda ini akan menimbulkan masalah. Mereka justru dengan berani menugaskan urusan penting sebagai ujian bagi para serigala muda—sebuah hal yang akan tampak benar-benar gila bagi orang luar.
Sementara Rossina .... Urusan perburuan dan bisnis? Dia sudah pernah menyelesaikan hal seperti itu bahkan saat usianya masih jauh lebih muda. Baginya, semua itu terasa seperti rutinitas saja.
Jadi, Kawanan menyiapkan ujian istimewa khusus untuknya.
Rossina ditinggalkan di sebuah desa kosong, hanya ditemani lima bandit sial yang nasibnya juga sial. Kawanan penjahat ini sudah sangat terdesak, masing-masing mengincar sedikit sumber daya yang tersisa dari rekan lainnya, dan hanya bisa menunggu momen untuk saling menusuk dari belakang.
Kelima orang itu saling mengawasi, tak ada yang berani bergerak lebih dulu. Tapi ... kalau keseimbangan rapuh ini runtuh ....
Tugas pertama Rossina hanyalah bertahan dari ancaman bandit-bandit itu. Tapi itu saja belum cukup. Serangan binatang buas pun sering terjadi di sana—kadang predator tunggal, kadang satu kelompok sekaligus.
Para Tetua Kawanan mengantarnya, lalu pergi begitu saja tanpa ragu sedikit pun. Mereka tampak sama sekali tak peduli apakah Rossina akan bisa bertahan hidup di sana.
Dua minggu kemudian, saat mereka kembali ke desa itu, mereka benar-benar dibuat takjub dengan apa yang mereka temukan.
Sebuah pagar telah berdiri mengelilingi desa. Kelima bandit itu bersama Rossina bergantian berjaga dari serangan binatang liar. Saat tak ada serangan, sebagian keluar berburu, sisanya mencari air bersih. Mereka benar-benar berubah menjadi tim yang solid dan bisa bekerja sama.
Orang-orang itu tadinya terus saling curiga. Tak ada yang tahu bagaimana cara Rossina membuat mereka mematuhinya. Menurut Rossina sendiri, dia hanya “membuat mereka paham satu-satunya cara untuk bertahan hidup.”
Catello juga pernah menjalani ujian yang sama. Tapi .... Dia menghabiskan beberapa hari membasmi semua binatang di sekitar, meninggalkan cukup banyak makanan, lalu menghilang tanpa diketahui siapa pun. Dia baru kembali pada akhir ujian.
— Transkrip Wawancara dengan anggota Kawanan, Marco Wulfhowl Luppino
Kawanan tampaknya tak khawatir anak-anak muda ini akan menimbulkan masalah. Mereka justru dengan berani menugaskan urusan penting sebagai ujian bagi para serigala muda—sebuah hal yang akan tampak benar-benar gila bagi orang luar.
Sementara Rossina .... Urusan perburuan dan bisnis? Dia sudah pernah menyelesaikan hal seperti itu bahkan saat usianya masih jauh lebih muda. Baginya, semua itu terasa seperti rutinitas saja.
Jadi, Kawanan menyiapkan ujian istimewa khusus untuknya.
Rossina ditinggalkan di sebuah desa kosong, hanya ditemani lima bandit sial yang nasibnya juga sial. Kawanan penjahat ini sudah sangat terdesak, masing-masing mengincar sedikit sumber daya yang tersisa dari rekan lainnya, dan hanya bisa menunggu momen untuk saling menusuk dari belakang.
Kelima orang itu saling mengawasi, tak ada yang berani bergerak lebih dulu. Tapi ... kalau keseimbangan rapuh ini runtuh ....
Tugas pertama Rossina hanyalah bertahan dari ancaman bandit-bandit itu. Tapi itu saja belum cukup. Serangan binatang buas pun sering terjadi di sana—kadang predator tunggal, kadang satu kelompok sekaligus.
Para Tetua Kawanan mengantarnya, lalu pergi begitu saja tanpa ragu sedikit pun. Mereka tampak sama sekali tak peduli apakah Rossina akan bisa bertahan hidup di sana.
Dua minggu kemudian, saat mereka kembali ke desa itu, mereka benar-benar dibuat takjub dengan apa yang mereka temukan.
Sebuah pagar telah berdiri mengelilingi desa. Kelima bandit itu bersama Rossina bergantian berjaga dari serangan binatang liar. Saat tak ada serangan, sebagian keluar berburu, sisanya mencari air bersih. Mereka benar-benar berubah menjadi tim yang solid dan bisa bekerja sama.
Orang-orang itu tadinya terus saling curiga. Tak ada yang tahu bagaimana cara Rossina membuat mereka mematuhinya. Menurut Rossina sendiri, dia hanya “membuat mereka paham satu-satunya cara untuk bertahan hidup.”
Catello juga pernah menjalani ujian yang sama. Tapi .... Dia menghabiskan beberapa hari membasmi semua binatang di sekitar, meninggalkan cukup banyak makanan, lalu menghilang tanpa diketahui siapa pun. Dia baru kembali pada akhir ujian.
— Transkrip Wawancara dengan anggota Kawanan, Marco Wulfhowl Luppino
FILE 3
“Kawanan mengutus anak kecil ini untuk bicara? Apa si tua Rozzan dan krunya sudah tewas?”
Rossi melirik Erik, yang tertawa riuh dengan krunya, dan langsung hilang minat pada sang pemimpin yang terkenal dengan julukan “Meriam Alam Liar” itu.
Ini pertama kalinya Rossi menangani “urusan” klan. Seminggu sebelumnya, rombongan pedagang yang berniat mendatangi keluarga Luppino dihadang oleh Erik. Karena menghormati nama Kawanan, kawanan bandit itu tak berani melukai kurirnya, tapi sebagian besar barang yang mestinya dikembalikan justru hilang. Saat Catello sedang tak ada di klan, Rossi menawarkan diri karena ingin membuktikan kemampuannya lewat “urusan” ini.
Tapi, saat itu juga, Rossi mulai menyesal. Kunjungan ini bahkan lebih membosankan daripada perburuan di tanah sendiri. Si “Meriam Alam Liar” hanya menggeliat-geliat dengan tubuh besarnya sambil memukuli meja. Sejak awal bertemu, dia terus memancing amarah Rossi.
Rossi tahu betul: kekuatan sejati justru tampak tenang dan tak pernah goyah. Itulah pelajaran yang dipetiknya di klan. Tak seorang pun, bahkan Rozzan atau para Tetua sekalipun, tak pernah sesumbar tentang kekerasan seperti ini.
“Kata Nonno Rozzan, ini tentang ‘bisnis’. Dalam setiap bisnis, selalu ada yang untung dan yang rugi.”
Rossi memandangi seisi tenda. Dia mencium bau mesiu dan tahu pasti lokasi bahan peledak yang dipasang pihak lawan. Jumlahnya kecil. Jelas, mereka tak berniat menghabisinya. Rupanya, seekor serigala hidup lebih berguna bagi mereka.
“Kawanan tak keberatan kalau teman bisnis ikut-ikutan cari untung. Sayangnya aku belum menjalani ujian pendewasaanku, jadi aku belum jadi anggota sejati Kawanan. Aku hanya ingin untung. Aku tak mau rugi.”
“Kelihatannya Kawanan tak mau bernegosiasi, ya?”
Mata Erik berkilat sekilas. Bandit-bandit di sekeliling mereka pun langsung serius, ada yang sudah meletakkan tangan di senjata mereka.
Dua ahli pedang, dua ahli kapak, dan mungkin beberapa caster di luar tenda. Dengan posisi seperti ini, mustahil bisa menyingkirkan mereka dengan cepat. Jadi—
Sambil menganalisis situasi, Rossi memainkan garpu di atas meja, menunggu saat yang pas.
“Dengar, ya. Sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di sini, ada yang terus mengoceh. Aku tak boleh begini. Aku tak boleh membunuh. Aku harus ikut aturan kawanan—Aturan Kawanan, katanya.”
Kegeraman Erik makin menjadi. Dengan penuh amarah, ditatapnya gadis yang datang sendirian itu. Segala persiapan ini, tadinya untuk Rozzan dari Kawanan. Tapi yang diutus malah bocah perempuan .... Erik merasa direndahkan.
“Aturan? Aturan itu ditulis oleh mereka yang besar dan kuat!”
Erik mengangkat meriamnya. Kawanan sangat menjaga keluarganya. Mungkin akan jauh lebih menguntungkan kalau gadis itu disandera saja.
Dalam sekejap, sebuah garpu terbang ke arah Erik. Rossi melompat dari kursinya dan tiba-tiba menghilang. Erik menepis alat makan itu dan langsung membidikkan senjatanya.
“Diam, jangan bergerak.”
Sebilah belati menempel di tengkuknya.
Bandit-bandit lain akhirnya menghunus senjata, tapi sudah terlambat.
“BERHENTI! JANGAN MENDEKAT!” Erik berteriak, merasakan dinginnya pisau di belakang lehernya.
“Kau mengandalkan para caster yang berjaga di pintu untuk menolongmu? Tapi aneh ... sepi sekali, ya. Sepertinya klanku sudah membereskan urusan ini lebih cepat dariku. Kau tadi bilang apa, ya? Oh iya ... soal Aturan ....”
Ujung pisaunya menempel makin dekat.
“Tahu tidak, apa sebenarnya arti Aturan Kawanan?” Rossi menyarungkan belatinya.
Erik berbalik dengan marah. Semua rencananya rusak oleh anak ingusan seperti ini? “Barang-barangnya sudah kuberikan kepada Bonekrusher. Kalau kau berani, silakan rebut kembali! Setelah kalian dihabisi mereka, akulah yang akan menulis Aturan baru untuk daerah ini!”
“Apa katamu tadi?”
Aura membunuh terpancar dari gadis di hadapannya, yang lebih kuat dari yang pernah dirasakannya selama ini.
Erik tak tahu risiko menyebut nama Bonekrusher di depan gadis ini. Tapi sebentar lagi dia akan tahu.
Melihat tenda yang hancur berantakan, Rossi hanya mengembus napas pelan.
“Urusan bisnis benar-benar merepotkan.”
Rossi melirik Erik, yang tertawa riuh dengan krunya, dan langsung hilang minat pada sang pemimpin yang terkenal dengan julukan “Meriam Alam Liar” itu.
Ini pertama kalinya Rossi menangani “urusan” klan. Seminggu sebelumnya, rombongan pedagang yang berniat mendatangi keluarga Luppino dihadang oleh Erik. Karena menghormati nama Kawanan, kawanan bandit itu tak berani melukai kurirnya, tapi sebagian besar barang yang mestinya dikembalikan justru hilang. Saat Catello sedang tak ada di klan, Rossi menawarkan diri karena ingin membuktikan kemampuannya lewat “urusan” ini.
Tapi, saat itu juga, Rossi mulai menyesal. Kunjungan ini bahkan lebih membosankan daripada perburuan di tanah sendiri. Si “Meriam Alam Liar” hanya menggeliat-geliat dengan tubuh besarnya sambil memukuli meja. Sejak awal bertemu, dia terus memancing amarah Rossi.
Rossi tahu betul: kekuatan sejati justru tampak tenang dan tak pernah goyah. Itulah pelajaran yang dipetiknya di klan. Tak seorang pun, bahkan Rozzan atau para Tetua sekalipun, tak pernah sesumbar tentang kekerasan seperti ini.
“Kata Nonno Rozzan, ini tentang ‘bisnis’. Dalam setiap bisnis, selalu ada yang untung dan yang rugi.”
Rossi memandangi seisi tenda. Dia mencium bau mesiu dan tahu pasti lokasi bahan peledak yang dipasang pihak lawan. Jumlahnya kecil. Jelas, mereka tak berniat menghabisinya. Rupanya, seekor serigala hidup lebih berguna bagi mereka.
“Kawanan tak keberatan kalau teman bisnis ikut-ikutan cari untung. Sayangnya aku belum menjalani ujian pendewasaanku, jadi aku belum jadi anggota sejati Kawanan. Aku hanya ingin untung. Aku tak mau rugi.”
“Kelihatannya Kawanan tak mau bernegosiasi, ya?”
Mata Erik berkilat sekilas. Bandit-bandit di sekeliling mereka pun langsung serius, ada yang sudah meletakkan tangan di senjata mereka.
Dua ahli pedang, dua ahli kapak, dan mungkin beberapa caster di luar tenda. Dengan posisi seperti ini, mustahil bisa menyingkirkan mereka dengan cepat. Jadi—
Sambil menganalisis situasi, Rossi memainkan garpu di atas meja, menunggu saat yang pas.
“Dengar, ya. Sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di sini, ada yang terus mengoceh. Aku tak boleh begini. Aku tak boleh membunuh. Aku harus ikut aturan kawanan—Aturan Kawanan, katanya.”
Kegeraman Erik makin menjadi. Dengan penuh amarah, ditatapnya gadis yang datang sendirian itu. Segala persiapan ini, tadinya untuk Rozzan dari Kawanan. Tapi yang diutus malah bocah perempuan .... Erik merasa direndahkan.
“Aturan? Aturan itu ditulis oleh mereka yang besar dan kuat!”
Erik mengangkat meriamnya. Kawanan sangat menjaga keluarganya. Mungkin akan jauh lebih menguntungkan kalau gadis itu disandera saja.
Dalam sekejap, sebuah garpu terbang ke arah Erik. Rossi melompat dari kursinya dan tiba-tiba menghilang. Erik menepis alat makan itu dan langsung membidikkan senjatanya.
“Diam, jangan bergerak.”
Sebilah belati menempel di tengkuknya.
Bandit-bandit lain akhirnya menghunus senjata, tapi sudah terlambat.
“BERHENTI! JANGAN MENDEKAT!” Erik berteriak, merasakan dinginnya pisau di belakang lehernya.
“Kau mengandalkan para caster yang berjaga di pintu untuk menolongmu? Tapi aneh ... sepi sekali, ya. Sepertinya klanku sudah membereskan urusan ini lebih cepat dariku. Kau tadi bilang apa, ya? Oh iya ... soal Aturan ....”
Ujung pisaunya menempel makin dekat.
“Tahu tidak, apa sebenarnya arti Aturan Kawanan?” Rossi menyarungkan belatinya.
Erik berbalik dengan marah. Semua rencananya rusak oleh anak ingusan seperti ini? “Barang-barangnya sudah kuberikan kepada Bonekrusher. Kalau kau berani, silakan rebut kembali! Setelah kalian dihabisi mereka, akulah yang akan menulis Aturan baru untuk daerah ini!”
“Apa katamu tadi?”
Aura membunuh terpancar dari gadis di hadapannya, yang lebih kuat dari yang pernah dirasakannya selama ini.
Erik tak tahu risiko menyebut nama Bonekrusher di depan gadis ini. Tapi sebentar lagi dia akan tahu.
Melihat tenda yang hancur berantakan, Rossi hanya mengembus napas pelan.
“Urusan bisnis benar-benar merepotkan.”
FILE 4
Lonceng berdentang tiga kali. Satu per satu, para pelayat melepas penutup kepala dan maju untuk meletakkan bunga di atas peti dingin itu.
Ada yang menangis pelan, ada pula yang hanya diam menunduk. Rozzan mengamati sekitar, tapi tak menemukan sosok merah yang begitu akrab itu.
Tetua Kawanan terakhir yang selamat dari insiden itu sudah dibaringkan di dalam peti. Dia menghabiskan sisa hari-harinya dalam derita. Walau tubuhnya dilumpuhkan racun Bonekrusher dan pedang mereka menembus setiap anggota tubuhnya, sang Tetua tetap memeluk erat serigala muda berselimut itu ... hingga akhirnya dia menyerahkan anak itu kepada seorang bocah laki-laki lainnya ....
“Dia belum datang juga ....”
Ucapan itu sampai ke telinga Rozzan. Dia mengangguk perlahan, lalu menyerahkan sisa upacara kepada Tetua lain tanpa bicara.
Dia tahu di mana harus mencari. Setiap kali hatinya gelisah, gadis itu pasti menenggelamkan diri di arena latihan hingga larut malam.
Rozzan memperhatikan si gadis dalam diam. Dia pun sebenarnya sadar sedang diawasi, tapi tak ada sepatah kata keluar dari keduanya. Setelah satu tebasan terakhir yang penuh emosi, pedang Rossina tertancap di boneka latihan lalu tubuhnya ambruk ke tanah. Tak ada yang tahu sudah berapa lama dia berlatih tanpa henti.
“Dia sudah tiada.”
Rozzan mendekati Rossi yang tergeletak terengah-engah, suaranya pelan dan datar.
“Aku tahu .... Aku tahu ....”
Rossi menurunkan tudung menutupi matanya, tapi suaranya bergetar hebat. Sejak paham dunia, setiap pekan dia mengunjungi Sang Tetua yang telah terluka, agar sang Serigala Tua bisa melihat dirinya tumbuh kuat dan sehat. Bagi Rossi, beliaulah satu-satunya penyambung yang tersisa, yang menghubungkannya dengan orang-orang yang telah tiada.
“Kau mestinya hadir di sana. Dia pasti ingin melihatmu.”
“Tapi ... semua gara-gara aku .... Semua dilakukannya demi ....”
Rozzan mengangkat Rossi sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya, lalu menggendongnya menuju halaman tempat pemakaman.
“Aku tak sanggup menemuinya .... Ini semua salahku .... Aku tak mau ....”
Rossi memberontak di atas bahu Rozzan. Kukunya menggores kulit Rozzan, giginya menggigit lengan Rozzan. Tapi, wajah Rozzan tetap datar, terus melangkah menuju pemakaman.
Tak lama, tenaga Rossi habis. Tubuhnya lemas bersandar di punggung Rozzan, tangannya terkulai.
“Aku belum jadi serigala yang bisa diandalkan Kawanan ....”
Rossi bergumam, entah kepada Rozzan atau kepada seseorang yang sudah tak ada.
“Aku belum pernah bisa berdiri sendiri. Aku tak mampu memimpin. Tak ada satu pun hal yang benar kulakukan .... Aku tak pantas mendapatkan pengorbanan itu ....”
Rozzan berhenti. Halaman pemakaman kini kosong, tinggal abu dupa dan satu peti saja. Di dalamnya, sang Tetua berbaring damai, diselimuti bunga-bunga.
“Setiap kali kau menjenguknya, beliau selalu menarikku untuk mengobrol setelahnya. Mungkin memang sudah tua, jadi tak pernah ingat sudah cerita apa. Cerita-cerita itu selalu diulang, tak pernah selesai.”
Rozzan menurunkan Rossi perlahan. Dia menempatkan tangan di atas peti, memandang sahabat lamanya itu.
“Beliau suka sekali mengenang masa jayanya, atau saat kami pernah bertengkar. Tapi, detailnya selalu berubah-ubah. Kadang beliau yang salah, kadang aku. Hanya ada satu hal yang tak pernah berubah dari semua kisah itu.”
Rozzan mengacak-acak rambut Rossi pelan.
“Setiap kali, beliau selalu berkata: menyelamatkanmu adalah hal terbesar yang pernah dilakukannya.”
Rossi menunduk. Dia melepas liontin pucat yang diberikan sang Tetua, lalu meletakkannya di atas kumpulan bunga itu.
Peti itu pun tertutup rapat. Serigala muda itu pun tak pernah menangis lagi.
Ada yang menangis pelan, ada pula yang hanya diam menunduk. Rozzan mengamati sekitar, tapi tak menemukan sosok merah yang begitu akrab itu.
Tetua Kawanan terakhir yang selamat dari insiden itu sudah dibaringkan di dalam peti. Dia menghabiskan sisa hari-harinya dalam derita. Walau tubuhnya dilumpuhkan racun Bonekrusher dan pedang mereka menembus setiap anggota tubuhnya, sang Tetua tetap memeluk erat serigala muda berselimut itu ... hingga akhirnya dia menyerahkan anak itu kepada seorang bocah laki-laki lainnya ....
“Dia belum datang juga ....”
Ucapan itu sampai ke telinga Rozzan. Dia mengangguk perlahan, lalu menyerahkan sisa upacara kepada Tetua lain tanpa bicara.
Dia tahu di mana harus mencari. Setiap kali hatinya gelisah, gadis itu pasti menenggelamkan diri di arena latihan hingga larut malam.
Rozzan memperhatikan si gadis dalam diam. Dia pun sebenarnya sadar sedang diawasi, tapi tak ada sepatah kata keluar dari keduanya. Setelah satu tebasan terakhir yang penuh emosi, pedang Rossina tertancap di boneka latihan lalu tubuhnya ambruk ke tanah. Tak ada yang tahu sudah berapa lama dia berlatih tanpa henti.
“Dia sudah tiada.”
Rozzan mendekati Rossi yang tergeletak terengah-engah, suaranya pelan dan datar.
“Aku tahu .... Aku tahu ....”
Rossi menurunkan tudung menutupi matanya, tapi suaranya bergetar hebat. Sejak paham dunia, setiap pekan dia mengunjungi Sang Tetua yang telah terluka, agar sang Serigala Tua bisa melihat dirinya tumbuh kuat dan sehat. Bagi Rossi, beliaulah satu-satunya penyambung yang tersisa, yang menghubungkannya dengan orang-orang yang telah tiada.
“Kau mestinya hadir di sana. Dia pasti ingin melihatmu.”
“Tapi ... semua gara-gara aku .... Semua dilakukannya demi ....”
Rozzan mengangkat Rossi sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya, lalu menggendongnya menuju halaman tempat pemakaman.
“Aku tak sanggup menemuinya .... Ini semua salahku .... Aku tak mau ....”
Rossi memberontak di atas bahu Rozzan. Kukunya menggores kulit Rozzan, giginya menggigit lengan Rozzan. Tapi, wajah Rozzan tetap datar, terus melangkah menuju pemakaman.
Tak lama, tenaga Rossi habis. Tubuhnya lemas bersandar di punggung Rozzan, tangannya terkulai.
“Aku belum jadi serigala yang bisa diandalkan Kawanan ....”
Rossi bergumam, entah kepada Rozzan atau kepada seseorang yang sudah tak ada.
“Aku belum pernah bisa berdiri sendiri. Aku tak mampu memimpin. Tak ada satu pun hal yang benar kulakukan .... Aku tak pantas mendapatkan pengorbanan itu ....”
Rozzan berhenti. Halaman pemakaman kini kosong, tinggal abu dupa dan satu peti saja. Di dalamnya, sang Tetua berbaring damai, diselimuti bunga-bunga.
“Setiap kali kau menjenguknya, beliau selalu menarikku untuk mengobrol setelahnya. Mungkin memang sudah tua, jadi tak pernah ingat sudah cerita apa. Cerita-cerita itu selalu diulang, tak pernah selesai.”
Rozzan menurunkan Rossi perlahan. Dia menempatkan tangan di atas peti, memandang sahabat lamanya itu.
“Beliau suka sekali mengenang masa jayanya, atau saat kami pernah bertengkar. Tapi, detailnya selalu berubah-ubah. Kadang beliau yang salah, kadang aku. Hanya ada satu hal yang tak pernah berubah dari semua kisah itu.”
Rozzan mengacak-acak rambut Rossi pelan.
“Setiap kali, beliau selalu berkata: menyelamatkanmu adalah hal terbesar yang pernah dilakukannya.”
Rossi menunduk. Dia melepas liontin pucat yang diberikan sang Tetua, lalu meletakkannya di atas kumpulan bunga itu.
Peti itu pun tertutup rapat. Serigala muda itu pun tak pernah menangis lagi.
Ilustrasi
Mutiara Kecil Kesayangan
Masa Depan Tanpa Batas
Dunia di Ujung Pena