| Tipe senjata | Pedang |
| Kelangkaan | ★★★★★ |
Akulah yang paling hebat, Kuehl. Kakakmu ini akhirnya berhasil menangkap Raja Ikan Lautan.
Lihat. Kemilau, ‘kan? Seperti yang dulu kaulihat?
Dulu, saat Lothar masih ada, kita bisa tangkap semua ikan di lautan. Sayang, keberuntungan kita berakhir pada malam berbadai itu.
Si Bertha Kecil adalah yang pertama melihatnya dari posisinya di atas tiang layar. Persis seperti yang disebutkan dalam legenda! Ikan besar yang seluruh tubuhnya dilapisi sisik keemasan yang berkilauan!
Kukira, itulah satu-satunya ikan yang harus kita tangkap agar nama kita tercatat dalam Sejarah Pemancing Hebat Talos! Kuabaikan saja nasihat dari adikmu, Links, dan kuarahkan kemudi Lothar menembus badai itu ....
Ugh. Aku akan bicara jujur saja. Aku masih menyesali keputusan yang kuambil malam itu. Aku memang pria tua bodoh yang keras kepala.
Ikan emas itu menghancurkan Lothar dan membuat Bertha Kecil terpaksa harus pakai kursi roda. Sejak itu, Links tak pernah mau bicara denganku lagi.
Tapi, aku tak mau mengaku kalah. Aku Spencer si Pemancing Terhebat. Tak akan kubiarkan siapa pun menangkap Raja Ikan Emas dan mencemooh awak kapalku.
Setiap kali kupejamkan mata, yang kulihat hanyalah sisik keemasannya. “Kalau berhasil menangkap ikan raksasa berkilau itu, aku bisa dapatkan kembali segala yang telah hilang dariku!”
Tapi, hanya kaulah satu-satunya orang yang percaya kepadaku. Dasar kau ini, si bodoh tak punya otak! Kenapa pula kau mau percaya kepada cecunguk tua sepertiku? Kenapa kauambil pinjaman uang dari bank TGCC demi membelikan kapal baru untukku? Mestinya kauikuti teman-teman yang lain dan berhenti saja!
Kauhabiskan dua tahun terbaik dalam hidupmu demi menemaniku dalam perburuan gilaku untuk menangkap ikan emas yang semu itu. Pada malam berbadai itu, kita memang hampir berhasil menangkapnya, tapi kau harus kehilangan nyawa demi menuruti kesintinganku ini ....
Kau mungkin tak tahu apa yang terjadi setelahnya. Talos, planet gas raksasa ini, mengutukku dengan memaksaku terus bertahan hidup .... Dan aku tak pernah kembali melaut lagi.
Begitulah, sampai minggu lalu. Aku terbangun dari mimpiku akibat suara guntur, dan kulihat kilauan ikan emas itu melalui sela-sela pintuku. Kubuka pintunya, dan kulihat si Raja Ikan itu di dalam akuarium bulatku! Tapi, BAGAIMANA MUNGKIN?! Ikan kecil itu sekarang cuma ikan warna-warni biasa yang dibeli kakak iparmu dari toko ikan hias.
Kuminta seorang mantan pekerja UWST untuk menguji ikan itu. Ternyata, memang cuma ikan tropis warna-warni biasa. Sisik keemasannya yang legendaris itu ternyata cuma jaringan lemak yang mengalami mutasi ... dan tampak berkilauan saat lemaknya terkena cahaya petir ....
Jadi, aku bisa bilang apa, Kuehl? Kakakmu ini akhirnya berhasil menangkap ikan itu.
Tapi rupanya, dialah umpannya, dan akulah ikannya.
Ikan yang berenang di lautan kehampaan, terpancing oleh umpan bernama obsesi.